SEPUTAR ETIKA
A. Makna Etika
Membicarakan
tentang etika, kita akan menemukan banyak makna yang terkandung dalam kata
tersebut. Hal ini karena pada dasarnya setiap tingkah laku manusia merupakan
cerminan kepribadian seseorang itu. Baik buruknya tingkah laku merupakan
manifesto dirinya sendiri. Sehingga sangat sulit untuk mendeskripsikan tingkah
laku seseorang atau masyarakat. Terlepas dari itu semua, dalam hal ini kita
akan membahas mengenai makna etika yang berkaitan dengan tingkah laku manusia
dalam berbagai versi secara umum.
Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, etika mempunyai tiga arti, antara lain:
1.
Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, serta hak dan kewajiban
moral (akhlak).
2.
Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
3.
Nilai yang membahas mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu
golongan masyarakat.
Untuk lebih mudah
memahami tentang etika, maka makna etika dapat dibedakan menjadi tiga makna
(urutan yang dibalik), yaitu:[1]
1.
Nilai-nilai serta norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang
atau suatu kelompok masyarakat dalam mengatur tingkah lakunya. Dalam hal ini
etika dirumuskan sebagai sistem nilai yang bisa berfungsi baik dalam kehidupan
manusia perseorangan maupun pada tarap sosial.
2.
Etika merupakan kumpulan asas atau nilai moral, dalam hal ini disebut
sebagai kode etik.
3.
Norma diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang baik atau buruknya
tingkah laku seseorang. Disini diartikan sebagai filsafat moral.
Disamping
pengertian diatas, makna lain mengenai etika dapat dijelaskan sebagai berikut.[2]
1.
Etika mempunyai makna sama dengan moral yaitu suatu adat kebiasaan.
Moral mengandung makna yang berkenaan dengan perbuatan yang baik dan buruk.
Disamping itu dikenal juga konsep moralitas, yaitu sistem nilai yang terkandung
dalam petuah, nasihat, perintah atau aturan yang diwariskan secara turun
temurun melalui agama atau kebudayaan dan tentang bagaimana seharusnya manusia
hidup agar menjadi lebih baik. Moralitas memberikan manusia petunjuk dan aturan
tentang bagaimana harus hidup, bertindak yang baik dan menghindari perilaku
yang tidak baik. Moralitas juga dapat diartikan sebagai kualitas perbuatan
manusia, sehingga perbuatan manusia dapat dikatakan baik atau buruk, salah atau
benar. Dalam hal ini moralitas itu bersumber dari hati nurani. Hati nurani
itulah yang memerintahkan atau melarang seseorang untuk melakukan sesuatu.
Perbedaan moral dan etika ialah: jika moral bersumber dari diri seseorang yaitu
hati nuraninya, sedangkan etika berdasarkan kepada hal-hal diluar dirinya
seperti kebiasaan atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
2.
Etika disebut sebagai adat kebiasaan yaitu norma-norma yang dianut oleh
kelompok, golongan atau masyarakat tertentu, baik mengenai perbuatan yang baik
maupun perbuatan yang bruruk.
3.
Etika dikenal juga sebagai studi tentang prinsip-prinsip perilaku yang baik
dan yang buruk. Dalam hal ini etika dikenal sebagai filsafat moral yang
bertujuan mempelajari fakta pengalaman manusia yang mampu membedakan yang benar
dan yang salah, yang baik dan yang buruk, dan hukumnya merupakan wajib untuk
dilaksanakan bagi seluruh umat manusia. Hal ini karena manusia dihadapkan pada
pilihan mengenai tindakan yang seharusnya dan tidak sepantasnya dilakukan, yang
boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
Jika ditinjau dalam
bahasa Yunani, maka etika itu berasal dari kata ethos yang
artinya watak, perasaan, sikap, perilaku, karakter, tatakrama, tatasusila,
sopan santun, cara berpikir dan lain-lain. Sedangkan bentuk jamaknya
adalah ta etha yang berarti adat kebiasaan. Seiring dengan
perkembangan zaman, kata etika lalu diartikan sebagai ilmu tentang sesuatu
kebiasaan yang dilakukan, atau ilmu tentang adat kebiasaan, dan etika juga
diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau moral.[3]
Agar kita
memperoleh gambaran serta makna dari etika yang mempunyai implementasi arti
sebagai ilmu, adat kebiasaan, filsafat moral dan sistem nilai, lebih jelasnya
dapat kita lihat penjelasan berikut:[4]
1.
Etika ialah ilmu pengetahuan yang membahas tentang asas-asas
akhlak-moral.
2.
Etika adalah sebuah tindakan refleksi kritis dan rasional mengenai nilai
dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku
hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok.
3.
Etika merupakan suatu ilmu tentang keusilaan yang menentukan bagaimana
seharusnya manusia hidup dalam masyarakat mengenai apa yang baik dan apa yang
buruk.
4.
Etika juga dapat diartikan sebagai kesusilaan, perasaan batin, atau
kecendrungan batin untuk melakukan sesuatu kebaikan.
5.
Etika mempelajari tingkah laku manusia, bukan saja untuk menemukan
kebenaran, tetapi juga kebaikan atas perilaku manusia.
6.
Etika memperhatikan serta mempertimbangkan tingkah laku manusia dalam
pengambilan keputusan moral. Sehingga etika menghubungkan penggunaan akal budi
individu dengan suatu objektivitas sebagai penentu kebenaran atau kesalahan dan
tingkah laku seseorang terhadap orang lain.
7.
Etika merupakan cabang dari ilmu filsafat yang disebut filsafat moral,
yang berhubungan apa yang seharusnya secara moral dikatakan baik atau buruk,
tentang karakter seseorang sebagai suatu studi untuk membedakan yang benar dari
yang salah, dan yang baik dari yang buruk.
Dari
penjelasan diatas banyak sekali kita dapatkan tentang makna etika, baik secara
bahasa maupun secara istilah dan definisi. Pada intinya etika merupakan tatanan
pergaulan yang melandasi tingkah laku manusia seperti bagaimana seseorang harus
bersikap, berprilaku, serta bertanggung jawab, untuk dapat mencapai hubungan
yang harmonis antar umat manusia.
B. Peranan dan Manfaat Etika
Sebagaimana kita
ketahui bahwa etika merupakan tatanan yang melandasi tingkah laku manusia, dan
dengan etika agar manusia bertingkah dan bersikap yang lebih baik. Untuk itu
etika mempunyai banyak peranan, sebagaimana juga fungsinya yang menjadi suatu
media pembimbing tingkah laku manusia, agar menjadi orang yang baik. Dalam hal
ini etika dapat dikatakan sebagai pemberi arahan, garis patokan atau pedoman
kepada manusia bagaimana sebaiknya bertingkah laku dalam masyarakat.
Sebagai petunjuk,
etika memberikan arahan suatu perbuatan apakah itu perbuatan baik, salah,
sehingga apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak. Tuntunan, bimbingan
ataupun petunjuk sangat diperlukan agar nantinya manusia dapat menjalin
hubungan yang baik dan harmonis sesamanya. Sebagai suatu norma, etika menjadi
patokan tentang suatu perbuatan yang dilarang, sehingga masyarakat tentu harus
mengikuti norma-norma yang berlaku tersebut. Tujuannya adalah agar masyarakat
dapat hidup dengan tertib, teratur, aman dan tentram demi tercapainya kehidupan
yang sejahtera, bahagia, dan memperoleh ketenangan hidup bersama. Macam-macam norma: norma hukum, norma agama, norma
sopan santun, norma adat, dan norma moral.
Seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ternyata menyebabkan
peranan etika juga menjadi semakin menonjol. Hal ini karena kemajuan itu
membawa nilai-nilai baru yang tidak sama dengan nilai-nilai lama.
Sebagai
halnya dengan peranaan, etika juga mempunyai manfaat bagi manusia secara
individu maupun kelompok. Manfaat etika
antara lain:[5]
1.
Etika dapat mendorong serta mengajak seseorang untuk bersikap kritis dan
rasional. Masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan pandangannya sendiri
akan tetapi harus dan dapat dipertanggung jawabkan.
2.
Etika juga dapat mengarahkan kepada masyarakat untuk berkembang menjadi
masyarakat yang tertib, teratur, damai dengan cara menaati norma-norma yang
telah ditetapkan. Dengan taat terhadap norma maka kelalaian-kelalaian yang
sering terjadi dapat kembali dipulihkan agar tercipta suasana yang damai dan
sejahtera.
C. Fungsi Etika
Ada beberapa fungsi
etika yang sangat perlu untuk diperhatikan oleh setiap masyarakat agar tercipta
hidup yang harmonis dan rukun, fungsi tersebut ialah:[6]
1.
Etika berfungsi sebagai pembimbing tingkah laku manusia agar dalam
mengelola kehidupan ini tidak sampai bersifat tragis dan semena-mena. Etika
selalu berusaha mencegah tersebarnya fracticida (act of breaking) yang
secara legendaris dan historis mewarnai sejarah hidup manusia.
2.
Dalam dunia pendidikan, fungsi etika sangat penting
sekali. Pendidikan yang sangat profesional sekalipun tanpa disertai mengenai
pendidikan tentang tanggung jawab serta etika profesional tidaklah lengkap.
Karena tanpa adanya landasan etika dan moral dalam mengemban profesi, tidak
terbayangkan apa yang akan terjadi jika menimpa para insan mahasiswa sebagai
penerus pembangunan bangsa.
3.
Etika juga berfungsi untuk membantu manusia mencari orientasi secara
kritis dalam berhadapan dengan moralitas yang membingungkan. Etika merupakan
pemikiran sistematis, sedang yang dihasilkannya bukanlah suatu kebaikan,
melainkan suatu pengertian yang lebih mendasar dan kritis.
ETIKA DALAM AGAMA HINDU DHARMA
A. Kerangka Dasar Agama Hindu
Agama Hindu
mempunyai bangunan dasar agama yang sangat ketat, hal ini sebagai pedoman bagi
umat Hindu dalam menjalankan ibadah serta syariat agamanya sehari-hari. Semua
ajaran tentang kerangka dasar ini bersumber dari Kitab Suci Weda dan
Kitab-kitab Suci Agama Hindu lainnya. Kerangka dasar agama Hindu tersebut
ialah:
1.
Tattwa atau Filsafat Agama Hindu
2.
Susila atau Etika Agama Hindu
3.
Upacara atau Ritual Agama Hindu
Bagi umat Hindu
menjalani serta memahami ketiga kerangka dasar tersebut menjadi suatu kewajiban
dan sangat penting. Oleh karenanya setiap umat Hindu akan dengan
sungguh-sungguh melaksanakan ketiga kewajiban tersebut.
Tattwa merupakan inti ajaran Agama,
sedangkan susila sebagai pelaksana ajaran dalam kehidupan
masyarakat sehari-hari. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Ida Sanghyang
Widi, maka dilaksanakan pengorbanan suci yaitu berupa upacara atau ritual.
B. Pengertian Etika dalam Agama Hindu
Dalam agama Hindu
etika dinamakan susila, yang berasal dari dua suku kata, su yang
berarti baik, dan sila berarti kebiasaan atau tingkah laku
perbuatan manusia yang baik. Dalam hal ini maka etika dalam agama Hindu
dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari tata nilai, tentang baik dan buruknya suatu
perbuatan manusia, mengenai apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus
ditinggalkan, sehingga dengan demikian akan tercipta kehidupan yang rukun dan
damai dalam kehidupan manusia. Pada dasarnya etika merupakan rasa cinta kasih,
rasa kasih sayang, dimana seseorang yang menjalani dan melaksanakan etika itu
karena ia mencintai dirinya sendiri dan menghargai orang lain.[7]
Etika menjadikan
kehidupan masyarakat menjadi harmonis, karena saling menjunjung tinggi rasa
saling menghargai antar sesama dan saling tolong menolong. Dengan etika akan
membina masyarakat untuk menjadi anggota keluarga dan anggota masyarakat yang
baik, menjadi warga negara yang mulia.
C. Tujuan Etika dalam Agama Hindu
Tujuan
diperintahkannya untuk menjalankan antara lain:
1.
Untuk membina agar umat Hindu dapat memelihara hubungan baik, hidup
rukun dan harmonis di dalam keluarga maupun masyarakat.
2.
Untuk membina agar umat Hindu selalu bersikap dan bertingkah laku yang
baik, kepada setiap orang tanpa pandang bulu.
3.
Untuk membina agar umat Hindu dapat menjadi manusia yang baik dan
berbudi luhur.
4.
Untuk menghindarkan adanya hukum rimba di masyarakat, dimana yang kuat
selalu menindas yang lemah.
Dengan
tujuan-tujuan tersebut diharapka umat Hindu menjadi manusia yang berbudi luhur,
cinta kedamaian, dan hidup rukun dalam negara dan bangsa.
D. Etika Dalam Agama Hindu
Etika agama Hindu
pada dasarnya mengajarkan aturan tingkah laku yang baik dan mulia. Dengan
adanya pedoman tersebut diharapkan seluruh umat hidup dapat menjalani serta
memahami secara baik dan benar. Kerangka dasar etika dalam Hindu Dharma antara
lain:
I. Tri Kaya Parisuda
Tri
Kaya Parisuda berasal
dari kata tri artinya tiga, kaya berarti
tingkah laku danparisuda mulia atau bersih. Tri Kaya Parisuda dengan
demikian berarti tiga tingkah laku yang mulia (baik).[8]
Adapun tiga tingkah
laku yang baik termaksud adalah:
1.
Manacika (berpikir yang baik dan suci).
Seseorang dapat dikatakan manacikaapabila ia:
1.
Tidak menginginkan sesuatu yang tidak halal.
2.
Tidak berpikir buruk terhadap sesama manusia atau mahluk lainnya.
3.
Yakin dan percaya terhadap hukum karma.
2.
Wacika (berkata yang baik dan benar).
Seseorang dapat dinyatakan sebagai wacika,apabila ia:
1.
Tidak mencaci maki orang lain.
2.
Tidak berkata-kata yang kasar kepada orang lain.
3.
Tidak memfitnah atau mengadu domba
4.
Tidak ingkar janji.
3.
Kayika (berbuat yang baik dan jujur).
Seseorang dapat dikatakan kayika, manakala ia:
1.
Tidak menyiksa, menyakiti atau membunuh.
2.
Tidak berbuat curang, mencuri atau merampok.
3.
Tidak berzina
II. Panca Yama Brata
Panca
Yama Brata berasal
dari tiga suku kata, yaitu panca berarti lima, yama artinya
pengendalian dan brata yang berarti keinginan. Panca
Yama Brata ialah lima keinginan untuk mengendalikan diri dari
godaan-godaan nafsu yang tidak baik. Lima macam
pengendalian diri yang perlu diperhatikan oleh umat Hindu ialah:[9]
1.
Ahimsa (tidak menyakiti atau
membunuh). Ahimsa berasal dari kata a yang berarti tidak,
dan himsa yang berarti membunuh atau menyakiti. Jadi ahimsa berarti
tidak membunuh atau tidak menyakiti orang (mahluk) lain. Menyakiti apalagi
membunuh adalah suatu perbuatan dosa yang besar dan dilarang oleh Agama
Hindu.
2.
Brahmacari (berpikir suci,
bersih dan jernih). Brahmacari berasal dari kata brahmayang
berarti ilmu pengetahuan, dan car berarti bergerak. Jadi brahmacarimaksudnya
bergerak atau bertingkah laku dalam menuntut ilmu pengetahuan. Tegasnya
bagaimana perilaku seseorang dalam mempelajari ilmu pengetahuan tentang
ajaran-ajaran yang termuat dalam Kitab Suci Weda, harus selalu
berpikir bersih dan jernih serta hanya memikirkan pelajaran atau ilmu
pengetahuan saja dan tidak memikirkan masalah-masalah keduniawian.
3.
Satya (kebenaran,
kesetiaan dan kejujuran). Ada lima jenis satya yang disebutPanca
Satya dan patut diperhatikan oleh umat Hindu, yakni:
1.
Satya Wacana yaitu setia
dan jujur dalam berkata-kata, tidak sombong, tidak mengucapkan kata-kata yang
tidak sopan, tidak berkata-kata yang menyakitkan serta tidak memaki.
2.
Satya Hredaya yaitu setia
terhadap kata hati dan selalu konsisten atau berpendirian teguh.
3.
Satya Laksana yaitu jujur
dan bertanggung jawab terhadap apa yang diucapkan.
4.
Satya Mitra yaitu selalu
setia kepada teman dan tidak pernah berkhianat.
5.
Satya Semaya yaitu selalu
menepati janji, tidak pernah ingkar kepada janjinya.
4.
Awyawahara (tidak terikat
keduniawian). Awyawahara berasal dari kata a yang
berarti tidak, dan wyawahara yang artinya terikat dengan
kehidupan duniawi. Dengan demikian awyawahara berarti tidak
terikat dengan kehidupan duniawi.
5.
Asteya atau Asteneya (tidak
mencuri). Asteya berasal dari kata a yang berarti tidak,
dan steya berarti mencuri atau memperkosa milik orang lain.
Jadi asteya berarti tidak mencuri atau tidak ingin memiliki
barang orang lain.
III. Dasa Yama Brata
1.
Anrsamsa (tidak
kejam). Anrsamsa berasal dari kata a yang
berarti tidak, dannrsamsa berarti orang yang kejam. Jadi Anrsamsa
berarti orang yang tidak kejam.
2.
Ksama (pemaaf). Mudah
memaafkan kesalahan orang lain merupakan perbuatan yang sangat terpuji. Berbuat
keliru adalah sifat manusia, karena setiap orang pernah membuat
kesalahan.
3.
Satya (kebenaran,
kesetiaan dan kejujuran)
4.
Ahimsa (tidak menyakiti
atau membunuh)
5.
Dama (mengendalikan hawa
nafsu)
6.
Arjawa (tetap pendirian)
7.
Priti (welas asih). Memberi perhatian
dan bantuan kepada masyarakat yang menghadapi berbagai kesulitan adalah sesuai
dengan ajaran agama. Berilah bantuan kepada siapa saja yang memerlukannya.
8.
Prasada (berpikir jernih
dan suci)
1.
Madhurya (ramah tamah). Madhurya berasal dari
kata madu yang berarti manis. Madhurya berarti hidup yang
manis, maksudnya selalu murah senyum, ramah tamah dengan siapa saja.
2.
Mardawa (lemah lembut). Orang yang lemah lembut
akan disukai oleh kawan-kawannya. Sebaliknya orang
yang berperilaku kasar akan dijauhi.
IV. Panca Niyama Brata
Panca
Niyama Brata adalah
lima cara pengendalian diri lanjutan (tahap kedua) untuk dapat tercapainya
ketenangan dan ketentraman batin. Kelima cara
dimaksud adalah:[11]
1.
Akrodha (tidak marah). Akrodha
berasal dari kata a yang berarti tidak, dan krodhaberarti marah.
Jadi Akrodha berarti tidak marah.
2.
Guru Susrusa (hormat kepada
guru). Setiap orang ataupun murid haruslah menghargai dan menghormati gurunya.
Pengertian guru disini adalah dalam pengertiannya yang luas, yakni: Guru
Rupaka, orang tua (ibu dan bapak); Guru Pengajian, yaitu guru
yang memberikan pendidikan dan pengajaran di sekolah; danGuru Wisesa,
yaitu Pemerintah yang mengayomi rakyatnya, yang beusaha mensejahterakan dan
memberikan perlindungan kepada rakyatnya.
3.
Sauca (bersih atau suci).
Manusia seyogyanya berhati bersih atau suci baik lahir maupun batin, jasmani
maupun rohani.
4.
Aharalaghawa (makan makanan
sederhana). Aharalaghawa berasal dari kata ahardyang
berarti makan, dan taghawa yang berarti ringan. Dengan
demikianAharalaghawa berarti makan makanan yang ringan-ringan, yang
sederhana atau makan seperlunya dan tidak berlebihan.
5.
Apramadha (tidak mengabaikan
kewajiban). Apramada berarti tidak mengabaikan kewajiban, maksudnya selalu ingat
dengan tugas kewajiban.
V. Dasa Niyama Brata
Dasa Niyama Brata merupakan
suatu etika lanjutan dalam agama Hindu yang lebih tinggi lagi
tingkatannya. Dasa Niyama Brata terdiri dari:[12]
1.
Dana (bersedekah). Dana diartikan
sebagai harta benda, yaitu berupa pemberian sedekah kepada masyarakat miskin,
masyarakat yang kekurangan, dan yang memerlukan bantuan. Dalam memberikan
sedekah harus dilandasi dengan tulus ikhlas dan tanpa pamrih atau tanpa harapan
adanya balas jasa.
2.
Ijya (memuja dan memuji Tuhan).
Manusia sebagai mahkluk yang lemah harus senantiasa ingat kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Dengan memuja dan memuji Tuhan akan selalu mengingatkan manusia,
bahwa Tuhan maha pencipta dan pemberi hidup kepada manusia, dan karena itu
manusia berhutang budi kepada-Nya. Memuja dan memuji Tuhan harus dilandasi
dengan jiwa yang tulus, sembah sujud, khidmat, dan penuh rasa pengabdian.
3.
Tapa (menjauhi kesenangan duniawi).
Manusia diharapkan agar selalu berusaha melakukan pengendalian diri terhadap
kesenangan dunia, karena dapat membuat celaka. Mengendalikan diri dengan
Tapa yaitu berusaha mengurangi kebiasaan sehari-hari, sepert makan yang
berlebihan, tidur terlalu lama, berbicara yang tidak bermanfaat, dan lain-lain.
Mengurangi kebiasaan berarti mengendalikan keinginan, dan pada akhirnya manusia
akan memperoleh ketenangan dan ketentraman lahir batin.
4.
Dhyana (memusatkan
pikiran). Sangat dianjurkan sekali apabila seseorang sewaktu-waktu dapat
memusatkan pikirannya. Ini bertujuan supaya manusia dapat mengendalikan
pikirannya agar tidak memikirkan yang aneh-aneh (negative thinking), tetapi
terpusat hanya kepada Tuhan semata. Dengan demikian, manusia akan dapat
menyadari kebesaran Tuhan, dan memperoleh kebahagiaan lahir batin.
5.
Swadhyaya (belajar
sendiri). Swa artinya sendiri, dan adhyaya artinya
guru atau berguru. Dengan demikian swadhyaya berarti belajar
sendiri, berusaha sendiri untuk mencapai suatu kemajuan. Disini ditekankan agar
seseorang tidak malas, mau berusaha sendiri untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
tanpa harus menunggu orang lain mengajarinya.
6.
Upasthanigraha (mengendalikan hawa
nafsu). Kebiasaan menuruti nafsu dapat membawa manusia kepada akibat yang
buruk, dan dapat mencelakakan manusia itu sendiri. Hawa nafsu yang dimaksud
disini yaitu nafsu birahi (sexual). Dengan senantiasa menuruti nafsu sexual
akan membuat manusia terjerumus kelembah kemaksiatan, apalagi jika nafsu
tersebut diumbar diluar rumah akan menyebabkan timbulnya penyakit kotor,
seperti HIV, AIDS, dan lain-lain. Untuk itu agama mengajarkan agar mansuia
selalu berusaha mengendalikan hawa nafsunya. Dengan demikian akan terpelihara
lingkungan yang sehat, serta kehidupan yang baik.
7.
Brata (melaksanakan
pantangan). Manusia dapat melaksanakan pengendalian diri dengan
melakukan berbagai pantangan. Pantangan yang dimaksud seperti pantangan makan,
pantangan tidur, pantangan berbicara, dan lain-lain. Dengan terbiasa melakukan
pantangan akan meningkatkan mutu pengendalian diri, dan dapat menambah
ketenangan hidup.
8.
Upawasa (puasa). Dengan
berpuasa seseorang akan lebih mudah mengendalikan dirinya, mengekang keinginan
atau menahan hawa nafsu agar memperoleh pikiran yang bersih, jernih dan suci.
Berpuasa yang dilakukan secara berkala juga dapat bermanfaat bagi kesehatan
tubuh manusia.
9.
Mona (tidak berbicara).
Pengendalian diri dengan cara ini akan membuat seseorang mudah berkonsentrasi,
memusatkan pikiran hanya kepada Tuhan semata. Mona dilakuakan dengan cara tidak
berbicara sepatah katapun, atau diam diri.
10.
Snana (membersihkan
diri). Badan serta pakaian juga tidak luput dari kebersihan, karena dengan
badan bersih dan pakaian bersih, maka pikiranpun akan menjadi jernih dan suci.
Dengan demikian jalan menuju Tuhan akan menjadi terbuka lebar.
VI. Dasa Dharma
Dasa Dharma ialah sepuluh
macam perbuatan baik yang patut dilaksanakan oleh umat Hindu. Dengan
melaksanakan ajaran dharma ini dapat mendorong terciptanya masyarakat yang
aman, tentram dan damai. Sepuluh dasa dharma tersebut ialah:[13]
1.
Dhriti (bekerja dengan sungguh-sungguh).
Seseorang yang ditugaskan untuk melakukan sesuatu pekerjaan hendaknya
menyelesaikan pekerjaannya dengan penuh rasa tanggung jawab, mengerjakan dengan
sebaik-baiknya, dan bersungguh-sungguh. Dengan demikian akan tercapai hasil
yang maksimal dan memuaskan baik bagi dirinya maupun orang lain.
2.
Ksama (mudah memberikan
maaf). Ksama merupakan tindakan yang sangat terpuji bagi
setiap manusia, karena setiap manusia tak pernah luput dari khilaf. Setiap
orang pasti pernah berbuat salah dan oleh karena itu pada suatu saat ia pasti
ingin dimaafkan pula oleh orang lain. Memberikan maaf harus dengan tulus
ikhlas.
3.
Dama (dapat
mengendalikan nafsu). Manusia diharapkan agar selalu bisa mengendalikan nafsu
atau keinginannya. Janganlah menuruti nafsu dan keinginan karena akan dapat
menyulitkan diri sendiri maupun orang lain. Nafsu tersebut berupa nafsu sexual,
amarah, dan lain-lain.
4.
Asteya (tidak mencuri).
Orang yang menginginkan barang orang lain atau mencuri adalah orang yang tidak
bisa mengendalikan, dan selalu terjebak oleh nafsu duniawi. Orang dengan sifat
seperti ini pada akhirnya akan menderita karena tidak pernah merasa puas dengan
apa yang telah dimiliki dan selalu ingin mengambil hak orang lain.
5.
Sauca (berhati bersih dan
suci). Bersih dan suci bukan hanya badannya saja, tetapi juga pikiran dan
hatinya. Dengan hati dan pikiran yang bersih maka ketentraman dan kedamaian
serta ketenangan hidup akan mudah didapatkan.
6.
Indrayanigraha (dapat
mengendalikan keinginan). Manusia diharapkan selalu bisa mengendalikan semua
indra keinginannya atau nafsunya. Dengan demikian manusia akan lebih mudah
mencapai ketenangan lahir maupun batin. Batin yang tenang dan tentram akan
lebih mudah mengantarkan seseorang pada jalan kebenaran.
7.
Dhira (berani membela
yang benar). Manusia harus berani membela kebenaran dimuka bumi ini. Menjunjung
tinggi kebenaran, kesetiaan, dan kejujuran tanpa pandang bulu dan tidak takut
pada siapapun.
8.
Widya (belajar dan
mengajar). Selain belajar manusia juga dituntut untuk bisa mengajarkan ilmunya
kepada orang lain. Dengan belajar dan mengajar akan lebih cepat tercipta
masyarakat yang berpendidikan dan berbudaya, masyarakat yang maju, dan tidak
bodoh serta dibodohi oleh masyarakat lain.
9.
Satya (kebenaran,
kesetiaan, dan kejujuran). Manusia harus mempunyai sifat setia, jujur, dan
selalu berkata serta berbuat yang benar pula. Disamping itu juga harus berani
bertanggung jawab terhadap apa yang dikatakan, tidak berkhianat kepada teman,
dan harus menepati janji.
10.
Akrodha (tidak cepat
marah). Berusahalah agar tidak marah dan cepat marah. Karena dengan kemarahan
dapat menyakitkan hati orang lain, dan dapat mencelakakan dirinya sendiri.
Kemarahan dapat menimbulkan kekecewaan terhadap orang lain, dan pada gilirannya
orang lain akan berbalik marah kepada kita. Dalam kesehatan pun diketahui bahwa
dengan cepat marah orang akan cepat tua.
VII. Catur Paramita
Catur paramita berasal dari
kata catur yang berarti empat dan paramita yang
berarti perbuatan luhur. Dengan demikian catur paramita berarti empat perbuatan
luhur, yang harus dilaksanakan oleh seluruh umat Hindu.
Catur paramita terdiri dari:[14]
1.
Maitri (bersahabat). Manusia harus
mempunyai sifat-sifat bersahabat terhadap sesamanya. Manusia adalah ciptaan
Tuhan, jadi manusia berasal dari sumber yang satu yaitu tuhan dan karena itu
manusia semuanya bersaudara. Dengan tercapainya persaudaraan maka akan tercipta
hidup tenang, tentram, dan damai.
2.
Karuna (cinta kasih). Karuna merupakan
perbuatan luhur atau belas kasih terhadap orang yang kesusahan dan menderita.
Sebagai mahkluk ciptaan Tuhan manusia harus saling tolong menolong rela
berkorban demi orang lain, negara dan bangsa. Cinta kasih juga harus
ditimbulkan terhadap binatang, tubuh-tumbuhan dan mahkluk tuhan yang lain.
Dengan cara tidak memburu dan merusaknya.
3.
Mudhita (simpati). Simpati artinya
turut merasakan kesusahan maupun kebahagiaan orang lain. Dengan sifat mudhita ini,
manusia akan terhindar dari rasa iri hati, dengki, dan kebencian terhadap
sesamanya.
4.
Upeksa (toleransi). Toleransi
merupakan perbuatan luhur dalam agama Hindu yang berarti manusia harus toleran
dan senantiasa memperhatikan keadaan orang lain. Sedangkan jiwanya dipenuhi
dengan rasa kesetia kawanan, simpati terhadap sesamanya, dan tidak menaruh rasa
dendam terhadap orang yang bermaksud jahat kepadanya.
VIII. Tri Hita Karana
Tri Hita Karana berasal dari
kata tri yang berarti tiga, hita yang berarti kebahagiaan, dan karana yang
berarti penyebab. Dengan demikian Tri Hita Karana dapat di
artikan dengan tiga penyebab kebahagiaan. Tiga penyebab kebahagian itu adalah:[15]
1.
Hubungan baik manusia dengan Tuhan. Manusia merupakan ciptaan tuhan, sedangkan Atman yang ada dalam diri
manusia merupakan percikan sinar suci kebesaran tuhan yang menyebabkan
manusia tetap hidup. Oleh karena itu manusia wajib berterima kasih, berbakti,
dan selalu sujud kepadanya.
2.
Hubungan baik manusia dengan manusia. Manusia didunia ini tidak dapat hidup sendiri, mereka membutuhkan
bantuan dan kerja sama kepada orang lain. sehingga dikatakan dengan mahkluk
sosial. Karena itu hubungan antara sesama manusia baik perorangan, keluarga,
dan masyarakat harus selalu baik dan harmonis. Masyarakat yang aman dan damai
akan menciptakan negara yang tentram dan sejahtera.
3.
Hubungan baik manusia dengan lingkungannya. Sebagai mahkluk hidup, manusia selalu
dipengaruhi oleh lingkungan, baik dari perkembangan maupun pertahanan diri
manusia tersebut. dengan demikian lingkungan harus dijaga dengan rapi dan
sehat, tdak menebang pohon sembarangan (illegal logging), pencemaran
udara, pencemaran air dan lain-lain.
BIBLIOGRAFI
Bertens, K. Etika.
Jakarta: Gramedia, 2004.
G. Pudja, dan
Tjokorda Rai Sudharta. Manava Dharmasastra atau Veda Smrti. Surabaya:
Paramita, 2004.
Pudja, Gede. Agama
Hindu. Jakarta: Mayasari, 1984.
Purwadarminta,
W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1966.
Rindjin,
Ketut. Etika Bisnis dan Implementasinya. Jakarta: Gramedia, 2004.
Sivanda, Sri
Svami. Hari Raya dan Puasa Dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita,
2002.
Subagiasta, I
Ketut. Teologi, Filsafat, Etika dan Ritual dalam Suastra Hindu.
Surabaya: Paramita, 2006.
Sudarsana,
Putu. Ajaran Agama Hindu. Denpasar: Yayasan Dharma Acarya,
2003.
Sharma. Mengapa?
Tradisi dan Upacara Hindu. Surabaya: Paramita, 2007.
Suhardana,
K.M. Upawasa, Tapa, dan Brata. Paramita, Surabaya, 2002.
______________ Pengantar Etika dan Moralitas Hindu: Bahan Kajian Untuk
Memperbaiki Tingkah Laku. Surabaya:
Paramita, 2006.
Wiranta, I Gede
A.B. Dasar-dasar Etika dan Moralitas. Bandung: Citra Aditya Bakti,
2005.
Wisnu, I Gede
Ardhana. Mengendalikan dan Menaklukan Musuh-musuh Dalam Diri Manusia.
Jakarta: Manikgeni, 2001.
[8] K.M.
Suhardana, Pengantar Etika dan Moralitas Hindu: Bahan Kajian Untuk
Memperbaiki Tingkah Laku (Surabaya: Paramita, 2006), h. 28.
http://dimas-sigit.blogspot.com/2011/12/ajaran-hindu-dharma-tentang-etika.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar